Cerita Sukses Berbisnis Lewat Instagram Oleh Pemilik Vanilla Hijab

Cerita Sukses Berbisnis Lewat Instagram Oleh Pemilik Vanilla Hijab

Trend baju hijab alami perubahan yang cukup cepat dalam lima th. paling akhir. Hal semacam ini juga buat jilbab jadi penutup kepala wanita berhijab makin kaya keragamannya. Rupanya, keragaman type jilbab itu dilirik kakak-beradik ini untuk jadikan kesempatan usaha.

Yaitu Intan Kusuma Fauzia serta adiknya, Atina Maulia yang berawal dari sebatas ‘iseng’ berjualan jilbab untuk isi waktu luangnya. Awalannya usaha jilbab ini cuma memakai fasilitas BBM (Blackberry Messenger) serta SMS untuk pasarkan barang dagangannya. Sepanjang tiga bln., Atina lah yang pertama meniti usaha jual-beli ini, persisnya pada 2012 waktu usianya masih tetap 18 th..

Atina ambil barang ke pusat grosir terlebih dulu, cuma bila ada peminat yang tertarik. Sesudah barang dibayarkan oleh konsumen, baru ia menyetorkannya pada pihak penyuplai. Jadi dapat disebut, usaha berjualan jilbab ini diawali tanpa ada keluarkan uang sepeser juga (untuk beli barang), terkecuali pada cost internet serta komunikasi.

” Sesungguhnya pada intinya kami berdua sukai berbelanja on-line, pada akhirnya iseng cobain jualan tapi yang mudah. Adikku dahulu jualan jilbab serta ambillah barangnya grosiran. Jadi dia photo barangnya, unggah ke BBM, bila ada yang beli baru barangnya di kirim, ” narasi Intan

Waktu itu, Intan yang masih tetap berkuliah di PPM Manajemen jurusan finance business ini ditugaskan untuk buat usaha baru jadi satu diantara prasyarat kelulusannya. Pada akhirnya sang adik menawarkannya untuk mengelola usaha hijab on-line bersama. Sepanjang tiga bln. selanjutnya, wanita yang saat ini berumur 23 th. ini rajin memonitor usaha itu sampai pada akhirnya betul-betul mantap menggerakkan profesinya jadi seseorang wiraswastawati.

Bisnisnya jalan lancar sampai di th. pertama. Waktu itu, mereka berdua mengambil keputusan untuk menghasilkan sendiri jilbabnya dalam jumlah besar. Dengan memercayakan jenis jilbab sisi empat serta pashmina, ke-2 kakak-beradik itu mencari-cari konveksi yang dapat menyanggupi permintaannya.

Tapi sayangnya, rintangan pernah hampiri Intan serta Atina. Jilbab produksinya dinyatakan tidak berhasil produksi karna tidak cocok dengan keinginan mereka. Produknya mempunyai panjang ukuran yang tidak sama hingga tidak layak untuk di jual kembali. Waktu itu mereka tidak untung sampai Rp 70 juta rupiah serta pernah tidak ingin berjualan sekali lagi karna shock serta tidak semangat.

Tetapi dorongan dari orang-tua buat mereka bangkit kembali hadapi sukai duka serta persaingan perebutan didunia usaha. Karena itu, saat ini nama Vanilla Hijab populer di sosial media terutama Instagram dengan jumlah pengikut lebih dari 300 ribu followers serta berhasil mempunyai dua konveksi sendiri.

Dalam satu bulan, mereka menghasilkan sekitaran empat jenis jilbab yang semasing macamnya di produksi sejumlah 1500 potong. Jilbab itu terbagi dalam delapan sampai 10 warna yang didominasi oleh beberapa warna pastel.

” Warna pastel itu memanglah satu diantara rencana kami. Tidak sering ada warna yang bold serta neon seperti kuning jelas atau pink neon. Paling terdapat banyak warna gelap yang standard seperti biru, hitam serta marun, ” lanjut Intan.

Karna usahanya yang telah cukup populer terutama di kelompok beberapa hijabers, hijab yang diproduksinya senantiasa habis tidak tersisa waktu selesai di produksi. Walau sebenarnya, Intan serta Atina telah menghasilkan sampai 3. 500 potong dalam satu bulan serta pernah terasa kuatir bila product buatan mereka tidak laris terjual. Tanpa ada diduga, barang jualannya segera habis kurun waktu 1/2 jam saja.

” Hingga saat ini kami senantiasa over permintaan, maka dari itu kami membatasi tiap-tiap pembelian cuma empat potong saja tiap-tiap customer, supaya yang beda juga kebagian, ” terangnya.

Telah serius melakukan usaha yang awalannya tidak keluarkan modal sekalipun, ke-2 kakak-beradik ini juga selalu berinovasi dalam usahanya. Saat ini mereka tengah meningkatkan aplikasi mobile yang dapat mempermudah beberapa pelanggan untuk belanja.

” Aplikasi itu telah dapat di-download tapi belum juga dapat digunakan untuk transaksi, masih tetap ingin ‘digodok’ sekali lagi. Yang akan datang ingin buat aplikasi untuk iOs karna kan kita tidak selama-lamanya berada di Instagram, ” tutup Intan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *